Tak Ada Jaringan Internet, Pelajar Pasrah Jalan dan Naik gunung

Tak Ada Jaringan Internet, Pelajar Pasrah Jalan dan Naik gunung

Tak Ada Jaringan Internet, Pelajar Pasrah Jalan dan Naik gunung

Tak Ada Jaringan Internet, Pelajar Pasrah Jalan dan Naik gunung – Belasan pelajar di pedalaman Desa Sattoko, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, harus berjalan jauh hingga ke puncak bukit.

Semua itu mereka lakukan demi mendapatkan jaringan internet, agar bisa mengikuti proses pembelajaran secara daring ( dalam jaringan ).

Hasna salah seorang pelajar, mengatakan hal ini dilakukan, lantaran kawasan pemukiman mereka belum terjangkau jaringan internet.

kendala pelajar di daerah ini untuk mengikuti pembelajaran daring, akibat pandemi Covid-19. Dan jarak pemukiman ke bukit tempat mendapat jaringan sekira 1 kilometer. Terkadang ditempuh dengan berjalan kaki, ataupun bermotor bagi mereka yang memiliki kendaraan.

“ Kalau ada tugas ataupun mau daring harus ke sini, di kampung tidak ada jaringan, mesti ke sini di gunung “ Ungkapnya yang ditemui senin sore kemarin (31/08/20).

di masa pandemi Covid-19. Lantaran tidak bisa belajar tatap muka, para siswa diharuskan belajar sacara online.

Hanya saja, tidak semua siswa beruntung bisa menikmati internet bagus layaknya di kota-kota besar. Bagaimana dengan nasib siswa yang berada di pelosok desa atau di wilayah-wilayah perbatasan.

Banyak terjadi di daerah pinggiran indonesia

Salah satu contoh nyata berikutnya dialami pelajar di Sentabeng, Desa Sekida, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, Kalbar yang demi mendapatkan sinyal bagus untuk belajar daring harus melewati hutan dan bukit.

Ayu, pelajar SMP 5 Sejaro setiap harinya sejak matahari baru terbit dia harus memulai perjalanan untuk bisa sampai di lokasi bagus yakni dekat perkotaan. Pelajar ini tinggal tidak jauh dari perbatasan Indonesia – Malaysia.

Setiap harinya, mereka harus turun dari rumah pagi hari, melewati jembatan yang terbuat dari bambu, serta hutan dan mendaki bukit yang bernama Bukit Abu.

Kegiatan seperti ini tidak hanya mereka lakukan saat pemberlakuan belajar secara daring saat pandemi, namun sudah sejak lama lantaran di desa mereka tidak ada jaringan internet.

Jangankan internet, di desa mereka pun belum seluruhnya teraliri listrik. “Saya berharap pemerintah memperhatikan kami, yang belum memiliki akses, baik interne, listrik dan juga jalan,” kata Ayu penuh harap.

Sementara, kepala desa Sekida, Sujianto berharap uluran banrtuan dari pemerintah pusat untuk segera membangun akses jalan, listrik dan telekomunikasi bagi masyarakat yang tinggal di perbatasan,” tutur Sujianto.

Hingga saat ini, baru ada satu pondok seadanya yang ada titik jaringan internet untuk para pelajar belajar secara daring.

Comments are closed.