Pemuka Agama Berperan Penting Sadarkan Masyarakat Peduli Alamnya

Pemuka Agama Berperan Penting Sadarkan Masyarakat Peduli Alamnya

Pemuka Agama Berperan Penting Sadarkan Masyarakat Peduli Alamnya

Pemuka Agama Berperan Penting Sadarkan Masyarakat Peduli Alamnya – Para pemimpin agama adalah orang-orang yang memimpin sekelompok umat beragama dalam menjalankan kegiatan beribadah atau kegiatan keagamaan yang lain. Berbagai pemicu konflik agama yang terjadi selama ini bukan saja didalangi oleh persepsi
umat, tetapi terkadang lebih disebabkan sikap dan perilaku pemuka agama yang tidak terbuka terhadap agama lain. Kesalahan pemahaman, regulasi dan sikap dari birokrat/ aparatur pemerintah terhadap peraturan bersama menteri agama dan menteri dalam negeri (PBM) nomor 9/8 tahun 2006 dalam pembinaan kerukunan umat beragama dapat mendorong munculnya potensi konflik sosial antar dan inter umat beragama.

Selama pandemik COVID-19 tidak bisa dipungkiri ada penurunan polusi. Namun angkanya tidak signifikan. Perubahan iklim masih juga menjadi ancaman. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Bahkan sudah puluhan tahun mungkin sudah dilakukan. Kampanye demi kampanye juga sudah dilakukan. Baik perorangan hingga lembaga-lembaga yang concern di bidang lingkungan. Hasilnya, belum juga efektif.

Tren kampanye lingkungan pun terus berinovasi. Langkah pelibatan agama dalam pelestarian lingkungan kembali digaungkan. Apa lagi di tengah krisis iklim yang terus mengancam. Peran agama dinilai sangat efektif. Karena agama mana pun pasti mengajarkan kebaikan deposit idn poker via dana dan memuliakan bumi.

1. Manusia belum ramah terhadap alam

antarafoto wisata pemandian alam salodik 051219 bmz 3 224a020e71412ec8afd2799b867d9230 - Pemuka Agama Berperan Penting Sadarkan Masyarakat Peduli Alamnya

Fachruddin dalam penjelasannya mengatakan jika saat ini manusia semakin apatis dengan alam. Perambahan hutan semakin masif dilakukan. Sehingga berakibat pada bencana alam dan kepunahan satwa liar.

Kondisi hutan yang semakin tergerus juga menambah potensi ancaman krisis lingkungan. Harusnya kondisi ini menjadi refleksi umat manusia. Khususnya para pemeluk agama.

“Kalau kita ditanya siapa yang mengampanyekan soal lingkungan di dunia jawabannya adalah agama. Karena agama mencegah dari kerusakan akibat kerakusan manusia. Agama yang menganjurkan kelestarian di bumi,” bebernya.

“Jadi alam dan manusia ini sedang bermasalah. Kita tidak ramah terhadap alam. Pesan-pesan moral agama itu sangat penting. Bagaimana kita menghargai alam,” kata Fachruddin.

2. Krisis iklim harusnya terus dikampanyekan secara masif, agama bisa jadi pintu masuk yang baik untuk menggerakkan kesadaran

Nana berpendapat senada dengan Fachruddin. Pandemik COVID-19 harusnya menjadi refleksi penting untuk manusia.

“Kalau kita gk belajar apapun dari kejadian ini, artinya sia – sia saja. Banyak pihak sudah membicarakan, bahwa kita melihat krisis di pandemik ini adalah belajar ke depan menghadapi krisis iklim,” ujarnya.

Di Amerika, tempat Nana tinggal saat ini, ketidakadilan untuk lingkungan hidup selalu menjadi diskursus menarik. Khsusnya di kalangan generasi millennial.

Ditambahkan Fachruddin, agama harus berperan dalam upaya konservasi lingkungan. Agama bisa menjadi pengingat para pemeluknya untuk terus berbuat baik dengan alam.

“Terkait agama dan lingkungan ini. Kita akan selalu melihat bahwa, iklim dan agama itu bagaimana kita mengubah perilaku. Agama itu tuntunan, dengan kitab sucinya. Agama yang mengampanyekan soal lingkungan. Karena di dalamnya sudah ada nilai yang mengatur. Agama menganjurkan pelestarian di bumi ini. Semua agama,” ujarnya.

3. Para tokoh agama harus andil dalam pelestarian lingkungan

antarafoto ikrar lintas agama menjaga kerukunan dan perdamaian 231119 mh 6 30d7d2626708bbd7ca675abd5828da1f - Pemuka Agama Berperan Penting Sadarkan Masyarakat Peduli Alamnya

Masing-masing agama, sesungguhnya bisa memulai upaya konservasi lingkungan. Misalnya dimulai dari komunitas kecil di rumah ibadah. Misalnya menerapkan green building dalam proses pembangunannya.

“Kalau berbicara perubahan iklimnya, kalau tokoh agama mau, ini rumah ibadah bisa kita jadikan green building. Kemudian ada rumah sakit, lembaga pendidikan. Bagaimana semua ini bisa berpartisipasi menularkan isu isu green. Seperti kita punya pesantren 27 ribu. 4,27 santrinya. Itu sudah satu negara eropa. Kalau memang mau umat Islam menularkan green life style ini bisa,” katanya.

Seperti di Aceh misalnya, terdapat hutan wakaf yang terus dijaga sampai sekarang. Masyarakat juga memfungsikannya sebagai tempat bercocok tanam. Namun tetap dengan aturan supaya lingkungan tidak rusak.

Para penceramah juga harus menularkan wacana lingkungan dalam kesempatannya berbicara di depan umat.

4. Krisis iklim sama dengan krisis moral

john cameron c46371yvzyg unsplash 1562224158 73267 b62b6969d2c7a9bcf86155764f464cc2 - Pemuka Agama Berperan Penting Sadarkan Masyarakat Peduli Alamnya

Agama punya potensi besar sebagai sarana kampanye krisis iklim. Namun potensi ini belum banyak digunakan dan dimaksimalkan. Selama ini, krisisi iklim cenderung hanya dibahas dalam sisi keilmuan, kebijakan, ekonomi dan bisnis.

Kata Nana, harus ada sinergi dari semua lini. Karena agama bisa menjadi penjaga nilai dan moral bagi penganutnya. “Kita melihat, krisis iklim krisis moral. Jadi ajaran agama berperan. Pemuka agama harus ikut memperjuangkan ini,” ujarnya.

Wacana soal lingkungan harus bisa dimasukkan hingga ke sekolah, pesantren dan komunitas millennials lainnya.

“Kita mulai bergeliat bareng-bareng. Ramai-ramai bahwa kiat punya potensi dari para pemeluk agama. Kalau bicara dengan lingkungan, bumi, rata-rata kita sepakat. Bagi semua agama bumi itu sakral. Yang paling gampang itu kerjasama lintas agama itu dari isu itu yakni krisis lingkungan dan iklim. Merekatkan kita bersama,” bebernya.

5. Menjaga lingkungan harus dimulai dari diri sendiri sehingga terjadi perubahan yang sistemik

Kata Fachruddin, pihaknya terus melakukan upaya konsolidasi dengan para ulama. Dalam ceramah-ceramah para ulama hingga ke masyarakat bawah. “Di MUI itu sudah ada Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam. Itu punya program eco Masjid dan lainnya. Dan sudah jadi trendsetter juga,” ungkapnya.

Sementara itu, kata Nana, upaya menjaga iklim harus dimulai dari diri sendiri. Kemudian berlanjut ke anggota keluarga lalu ke lingkungan terdekat. Konsistensi untuk melakukannya juga harus tinggi hingga menjadi kebiasaan.

“Ini yang lagi kita bentuk. Kumpulan kecil ini yang di seluruh dunia, kalau mereka bergerak, bisa saling belajar, diskusi. Di situ kita bisa membuat perubahan sistemik,” pungkasnya.

Comments are closed.